SAMPAH NENEK
PEOT
Karya : Arini Veradiani
Karya : Arini Veradiani
Ini benar benar hari yang
panas, keringat mengucur dari ujung rambut sampai mata kaki. Sumpah deh! rasanya
seperti dalam oven. Benar benar membuatku malas piket, tapi, yah mau apa lagi.
Tangan berat, meski
berat hati, aku tetap tabah, ikhlas, dan sabar menjalani salah satu sistim
kebersihan yang turun temurun ini. Meski lelah, yah, tapi tetap saja untuk
kebaikan kita juga. Ya kan ?
Aku Avika, anak kelas
X.3 di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri di Jakarta. Ditengah kegiatan piket
ini, ada sesuatu yang membuatku lebih panas lagi. Benar benar panas, ketika aku
melihat Cici, seorang seleb sekolah, yang eksis dan narsis, yang mulutnya kayak
ular berdesis, yang membuang setumpuk bungkus makanan ringan dihadapanku, Apa
maksudnya? Ini benar benar penghinaan!
“ Woy! lo gak ada mata ya ? Apa buta ?”
“Ups! ketaunan deh, haha!”
“Waah, gila luh!”
Saking kesalnya, aku mengenggam sampah yang aku tak tahu apa jenis dan asal usul sampah itu, kugenggam dengan penuh nafsu membunuh, dan kulepaskan sampah itu dengan sedikit dorongan aura kemarahan, dan Yak! sampah itu mendarat tepat di wajahnya.
“Hey! Are you crazy, girl? Aargh! Muka gue!”
“Ups! ketaunan deh, haha!”
wajah nya memerah menahan malu. Cici langsung berlari dan menggerutu di sepanjang langkahnya, mengomel - ngomel dan menyalahkan setiap orang dihadapannya.
“ Woy! lo gak ada mata ya ? Apa buta ?”
“Ups! ketaunan deh, haha!”
“Waah, gila luh!”
Saking kesalnya, aku mengenggam sampah yang aku tak tahu apa jenis dan asal usul sampah itu, kugenggam dengan penuh nafsu membunuh, dan kulepaskan sampah itu dengan sedikit dorongan aura kemarahan, dan Yak! sampah itu mendarat tepat di wajahnya.
“Hey! Are you crazy, girl? Aargh! Muka gue!”
“Ups! ketaunan deh, haha!”
wajah nya memerah menahan malu. Cici langsung berlari dan menggerutu di sepanjang langkahnya, mengomel - ngomel dan menyalahkan setiap orang dihadapannya.
Keesokannya, aku datang
kesekolah dengan perasaan bahagia karena aku baru saja merayakan pesta ulang
tahun adikku semalam. Tapi, perasaan bahagia itu hanya dapat dihitung dalam hitungan
detik. Wajah cantikku yang luar biasa ini langsung berubah jadi wajah nenek
lampir yang cemberut kayak lagi sakit perut.
Yah, apalagi yang bisa
membuat nenek sihir ketelen apel beracunnya sendiri kalau bukan gara – gara
ngeliat wajah sengsara si nenek peot Cici. Dia malah duduk – duduk didepan
kelas sambil menggenggam sekotak biskuit. Padahal teman teman kelas yang lain
sibuk membersihkan halaman depan kelas. Benar – benar kelewatan sih Cici ini!
Aku langsung
menghampirinya dan merampok sekotak biskuit itu.
“ Heh ! Apaan sih loe?”
“Woy coy! loh tu yang apaan? gak mikir apa? orang pada pembersihan, eh lu malah enak enakan makan! bantuin sana !”
“So?, kenapa musti gue? Loe kan bisa!”
“ Weits, nih lingkusan bersama Ci! jadi punya loe juga, loe harus bersihin dong! gimana sih !”
“ Haha, masalah buat gue? yang kotor kan lingkungannya, bukan gue! yaah biarin aja lah !”
“ Heh ! Apaan sih loe?”
“Woy coy! loh tu yang apaan? gak mikir apa? orang pada pembersihan, eh lu malah enak enakan makan! bantuin sana !”
“So?, kenapa musti gue? Loe kan bisa!”
“ Weits, nih lingkusan bersama Ci! jadi punya loe juga, loe harus bersihin dong! gimana sih !”
“ Haha, masalah buat gue? yang kotor kan lingkungannya, bukan gue! yaah biarin aja lah !”
Aku sudah benar - benar
marah sama nenek peot itu! Aku langsung mengambil setumpuk sampah dan
meletakkanya dihadapan Cici, dengan maksud menyuruhnya untuk membuang sampah
itu. Tapi ia malah membuyarkan setumpuk sampah itu dihadapanku, dan masuk ke
kelas dengan langkah lenggak lenggoknya, sambil merebut kotak biskuit dari
tanganku, melahapnya dengan wajah innocencenya
Pada siang harinya, aku
menyaksikan Cici menggeliat – geliut seperti cacing di selokan dekat WC
sekolah. Wajahnya memerah dan kedua tangannya dilipat sambil dilingkarkan di
perutnya. Ia meringis kesakitan sambil menyalahkan Mas – mas tukang jaga kasir
di toko swalayan tempat ia membeli makanan ringannya. Ia marah marah sendiri
dan menyumpah – nyumpah sambil memfitnah bahwa makanan yang dimakannya tadi
mengandung racun. Mana buktinya ? padahal temanku yang lain yang telah
mencicipnya tetap sehat – sehat saja. Cici tidak menyadari bahwa penyebabnya
adalah karena ia tidak cuci tangan setelah membuyarkan sampah dihadapanku tadi.
Tuh kan! kalau mau berbuat baik terhadap lingkungan, pasti berbuah hasil yang
manis. Mangkanya teman teman! jaga lingkungan kita agar lingkungan mau menjaga
kita juga.