Sabtu, 26 Januari 2013

Cerpen - Sampah Nenek Peot

SAMPAH NENEK PEOT
Karya : Arini Veradiani

                Ini benar benar hari yang panas, keringat mengucur dari ujung rambut sampai mata kaki. Sumpah deh! rasanya seperti dalam oven. Benar benar membuatku malas piket, tapi, yah mau apa lagi.
            Tangan berat, meski berat hati, aku tetap tabah, ikhlas, dan sabar menjalani salah satu sistim kebersihan yang turun temurun ini. Meski lelah, yah, tapi tetap saja untuk kebaikan kita juga. Ya kan ?
            Aku Avika, anak kelas X.3 di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri di Jakarta. Ditengah kegiatan piket ini, ada sesuatu yang membuatku lebih panas lagi. Benar benar panas, ketika aku melihat Cici, seorang seleb sekolah, yang eksis dan narsis, yang mulutnya kayak ular berdesis, yang membuang setumpuk bungkus makanan ringan dihadapanku, Apa maksudnya? Ini benar benar penghinaan!
            “ Woy! lo gak ada mata ya ? Apa buta ?”
            “Ups! ketaunan deh, haha!”
            “Waah, gila luh!”
            Saking kesalnya, aku mengenggam sampah yang aku tak tahu apa jenis dan asal usul sampah itu, kugenggam dengan penuh nafsu membunuh, dan kulepaskan sampah itu dengan sedikit dorongan aura kemarahan, dan Yak! sampah itu mendarat tepat di wajahnya.
            “Hey! Are you crazy, girl? Aargh! Muka gue!”
            “Ups! ketaunan deh, haha!”
            wajah nya memerah menahan malu. Cici langsung berlari dan menggerutu di sepanjang langkahnya, mengomel - ngomel dan menyalahkan setiap orang dihadapannya.
            Keesokannya, aku datang kesekolah dengan perasaan bahagia karena aku baru saja merayakan pesta ulang tahun adikku semalam. Tapi, perasaan bahagia itu hanya dapat dihitung dalam hitungan detik. Wajah cantikku yang luar biasa ini langsung berubah jadi wajah nenek lampir yang cemberut kayak lagi sakit perut.
            Yah, apalagi yang bisa membuat nenek sihir ketelen apel beracunnya sendiri kalau bukan gara – gara ngeliat wajah sengsara si nenek peot Cici. Dia malah duduk – duduk didepan kelas sambil menggenggam sekotak biskuit. Padahal teman teman kelas yang lain sibuk membersihkan halaman depan kelas. Benar – benar kelewatan sih Cici ini!
            Aku langsung menghampirinya dan merampok sekotak biskuit itu.
            “ Heh ! Apaan sih loe?”
            “Woy coy! loh tu yang apaan? gak mikir apa? orang pada pembersihan, eh lu malah enak enakan makan! bantuin sana !”
            So?, kenapa musti gue? Loe kan bisa!”
            “ Weits, nih lingkusan bersama Ci! jadi punya loe juga, loe harus bersihin dong! gimana sih !”
            “ Haha, masalah buat gue? yang kotor kan lingkungannya, bukan gue! yaah biarin aja lah !”
            Aku sudah benar - benar marah sama nenek peot itu! Aku langsung mengambil setumpuk sampah dan meletakkanya dihadapan Cici, dengan maksud menyuruhnya untuk membuang sampah itu. Tapi ia malah membuyarkan setumpuk sampah itu dihadapanku, dan masuk ke kelas dengan langkah lenggak lenggoknya, sambil merebut kotak biskuit dari tanganku, melahapnya dengan wajah innocencenya
            Pada siang harinya, aku menyaksikan Cici menggeliat – geliut seperti cacing di selokan dekat WC sekolah. Wajahnya memerah dan kedua tangannya dilipat sambil dilingkarkan di perutnya. Ia meringis kesakitan sambil menyalahkan Mas – mas tukang jaga kasir di toko swalayan tempat ia membeli makanan ringannya. Ia marah marah sendiri dan menyumpah – nyumpah sambil memfitnah bahwa makanan yang dimakannya tadi mengandung racun. Mana buktinya ? padahal temanku yang lain yang telah mencicipnya tetap sehat – sehat saja. Cici tidak menyadari bahwa penyebabnya adalah karena ia tidak cuci tangan setelah membuyarkan sampah dihadapanku tadi. Tuh kan! kalau mau berbuat baik terhadap lingkungan, pasti berbuah hasil yang manis. Mangkanya teman teman! jaga lingkungan kita agar lingkungan mau menjaga kita juga.
           

1 komentar: