KISAH SEMU DI
MATANYA
arini veradiani
arini veradiani
Bukan sore yang indah
ketika aku duduk termenung di halaman depan rumahku. Kupandangi sekelilingku
sesaat sebelum seseorang membuat telepon genggamku berdering. Kulihat telepon
genggamku, dan kudapati sebuah pesan tercantum dilayarnya.
Ah, Kali ini dari
Nasya. Yah, Ia sahabatku yang kukenal sejak aku di Sekolah Dasar. Kubuka pesan
itu, dan kubaca perlahan. Ternyata ia ingin datang kerumahku dan menceritakan
suatu kejadian yang mungkin akan terasa sangat menyakitkan. Dan tentu saja,
kuizinkan ia datang.
Kutunggu kedatangannya
di ruang Lavender dibelakang Ruang tamu. Kutunggu sosoknya dari Jendela berkaca
lusuh di dinding sampingku. Yah, Ia tak kunjung datang. Namun aku yakin, sosok
Nasya yang aku kenal sejk lamaak mungkin membohongiku. Berbuah dari kesabaran,
akhirnya aku mendengar suara ketukan di pintu depan rumahku, setelah cukup lama
tertidur di sofa ketika aku menunggunya.
Kubuka pintu itu dengan
setengah sadar. Yah, bayang di dunia mimpi masih melayang – laying di benakku.
Dan dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya, aku melihat sesosok perempuan,
yang taka sing lagi, namun terlihat lain. Kupaksakan keluar dari alam bawah
sadarku. Kubuat diriku benar – benar terbangun dan berdiri dengan seimbang di
dunia yang sekarang sedang aku masuki. Yah, ini bukan lagi mimpi.
Setelah kuluruskan
tatapanku, aku baru sadar bahwa yang tengah mematung didepanku adalah seorang
Nasya, namun begitu lain di mataku. Ia tampak lusuh, kusut dan berantakan.
Diwajahnya terlukiskan kisah semu yang dipendamnya dan hamper meledak. Jejak –
jejak airmata masih nampak dibawah mata birunya. Seberkas memar menyebar di
beberapa bagian di wajahnya yang cantik, bibirnya berdarah dan ada sedikit
lebam. Aku benar – benar terkejut melihat kondisinya. Aku langsung membawanya
ke kamarku. Sampai di kamarku, Ia langsung menangis sejadi – jadinya. Air mata
mengalir deras dan menyusuri pipinya yang merah dan biru. Aku memintanya untuk
tenang dan mengatur nafasnya. Namun Ia tetap menangis dan langsung menceritakan
semuanya.
Ternyata semua berawal dari
kisahnya dengan mantan pacarnya kemarin.
Lelaki itu tidak menyukai karena Nasya mengikuti klub Teater di kota
asal kelahiran lelaki itu, Bogor. Dan Nasya langsung diajak lelaki itu untuk
pergi kesana dan mengundurkan diri dari klub itu. Namun, Nasya menolak karea ia
terlanjr menyukai klub itu. Jadi, lelaki
itu menjambak rambut Nasya dengan sangat menyakitkan, menariknya ke mobil, dan
menghempaskan pintu mobil sampai jari Nasya hamper terjepit. Ketika Nasya
masuk, lelaki itu mengambil posisi untuk meyetir mobil dan mencaci – maki Nasya
dengan semati – matinya. Air mata Nasya dengan derasnya membasahi wajahnya yang
sudah pucat pasi. Lalu Lelaki itu mencabik- cabik tubuh dan kakinya dengan
kunci mobil ketika mereka turun dibelakang sebuah Restorant yang sedang tutup.
Lelaki itu melayangkan belasan tonjokkan, dan membuat Nasya berdarah disana –
sini. Tendangan dan jambakan pun dilayangkannya berkali – kali hingga Nasya
terjatuh dan tak berdaya. Setelah itu, Lelaki itu menarik rambutnya sampai
masuk ke mobil dan mengantarkannya pulang. Lalu lelaki itu pulang dengan mulut
yang membisu.
Keesokannya, lelaki itu
datang lagi kerumah Nasya. dan dengan sangat berat hati, Nasya menghampirinya. Lelaki
itu langsung berlutut sambil menangis, meminta maaf dan memohon ampun dengan
kata yang sejadi – jadinya. Dan, dengan ketulusannya,Nasya pun memaafkannya.
dan keesokan harinya, Nasya langsung pindah keluar kota dan tak lagi tinggal di
rumahnya yang dulu.
Astaga, betapa pilunya
perasaan seorang perempuan yang dianiaya habis – habisan. Kunasihati dia, dan
kutenangkan dia, kuhapus airmatanya yang mulai mengering, kuobati luka –
lukanya yang menyebar di sepanjang tangan dan kakinya, dan ia meminta izin
untuk menginap di rumahku malam itu, dan tentu saja aku mengizinkannya. Dan ini
benar – benar menjadi pelajaran bagiku, untuk tidak mudah terjebak kepada kata
– kata orang dan untuk bisa lebih memilih orang secara selektif dan lebih
berhati – hati dalam bergaul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar