Rabu, 11 Desember 2013

Cerpen - Kisah Semu Di Matanya

KISAH SEMU DI MATANYA
arini veradiani

            Bukan sore yang indah ketika aku duduk termenung di halaman depan rumahku. Kupandangi sekelilingku sesaat sebelum seseorang membuat telepon genggamku berdering. Kulihat telepon genggamku, dan kudapati sebuah pesan tercantum dilayarnya.
            Ah, Kali ini dari Nasya. Yah, Ia sahabatku yang kukenal sejak aku di Sekolah Dasar. Kubuka pesan itu, dan kubaca perlahan. Ternyata ia ingin datang kerumahku dan menceritakan suatu kejadian yang mungkin akan terasa sangat menyakitkan. Dan tentu saja, kuizinkan ia datang.
            Kutunggu kedatangannya di ruang Lavender dibelakang Ruang tamu. Kutunggu sosoknya dari Jendela berkaca lusuh di dinding sampingku. Yah, Ia tak kunjung datang. Namun aku yakin, sosok Nasya yang aku kenal sejk lamaak mungkin membohongiku. Berbuah dari kesabaran, akhirnya aku mendengar suara ketukan di pintu depan rumahku, setelah cukup lama tertidur di sofa ketika aku menunggunya.
            Kubuka pintu itu dengan setengah sadar. Yah, bayang di dunia mimpi masih melayang – laying di benakku. Dan dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya, aku melihat sesosok perempuan, yang taka sing lagi, namun terlihat lain. Kupaksakan keluar dari alam bawah sadarku. Kubuat diriku benar – benar terbangun dan berdiri dengan seimbang di dunia yang sekarang sedang aku masuki. Yah, ini bukan lagi mimpi.
            Setelah kuluruskan tatapanku, aku baru sadar bahwa yang tengah mematung didepanku adalah seorang Nasya, namun begitu lain di mataku. Ia tampak lusuh, kusut dan berantakan. Diwajahnya terlukiskan kisah semu yang dipendamnya dan hamper meledak. Jejak – jejak airmata masih nampak dibawah mata birunya. Seberkas memar menyebar di beberapa bagian di wajahnya yang cantik, bibirnya berdarah dan ada sedikit lebam. Aku benar – benar terkejut melihat kondisinya. Aku langsung membawanya ke kamarku. Sampai di kamarku, Ia langsung menangis sejadi – jadinya. Air mata mengalir deras dan menyusuri pipinya yang merah dan biru. Aku memintanya untuk tenang dan mengatur nafasnya. Namun Ia tetap menangis dan langsung menceritakan semuanya.
            Ternyata semua berawal dari kisahnya dengan mantan pacarnya kemarin.  Lelaki itu tidak menyukai karena Nasya mengikuti klub Teater di kota asal kelahiran lelaki itu, Bogor. Dan Nasya langsung diajak lelaki itu untuk pergi kesana dan mengundurkan diri dari klub itu. Namun, Nasya menolak karea ia terlanjr menyukai klub itu. Jadi,  lelaki itu menjambak rambut Nasya dengan sangat menyakitkan, menariknya ke mobil, dan menghempaskan pintu mobil sampai jari Nasya hamper terjepit. Ketika Nasya masuk, lelaki itu mengambil posisi untuk meyetir mobil dan mencaci – maki Nasya dengan semati – matinya. Air mata Nasya dengan derasnya membasahi wajahnya yang sudah pucat pasi. Lalu Lelaki itu mencabik- cabik tubuh dan kakinya dengan kunci mobil ketika mereka turun dibelakang sebuah Restorant yang sedang tutup. Lelaki itu melayangkan belasan tonjokkan, dan membuat Nasya berdarah disana – sini. Tendangan dan jambakan pun dilayangkannya berkali – kali hingga Nasya terjatuh dan tak berdaya. Setelah itu, Lelaki itu menarik rambutnya sampai masuk ke mobil dan mengantarkannya pulang. Lalu lelaki itu pulang dengan mulut yang membisu.
            Keesokannya, lelaki itu datang lagi kerumah Nasya. dan dengan sangat berat hati, Nasya menghampirinya. Lelaki itu langsung berlutut sambil menangis, meminta maaf dan memohon ampun dengan kata yang sejadi – jadinya. Dan, dengan ketulusannya,Nasya pun memaafkannya. dan keesokan harinya, Nasya langsung pindah keluar kota dan tak lagi tinggal di rumahnya yang dulu.

            Astaga, betapa pilunya perasaan seorang perempuan yang dianiaya habis – habisan. Kunasihati dia, dan kutenangkan dia, kuhapus airmatanya yang mulai mengering, kuobati luka – lukanya yang menyebar di sepanjang tangan dan kakinya, dan ia meminta izin untuk menginap di rumahku malam itu, dan tentu saja aku mengizinkannya. Dan ini benar – benar menjadi pelajaran bagiku, untuk tidak mudah terjebak kepada kata – kata orang dan untuk bisa lebih memilih orang secara selektif dan lebih berhati – hati dalam bergaul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar